Rasulullah S.A.W. bersabda bahwa barang siapa menghidupkan
sunahnya, sesungguhnya dia mencintai Rasulnya, dan barangsiapa mencintai Rasul,
sungguh dia akan bersama-sama dengan Rasul di dalam Surga.
Pernyataan Baginda Rasul ini sangat memotivasi jiwa umatnya
untuk dapat bersama beliau di dalam Surga dengan segala kenikmatan yang tiada tara , Kita sering mendengar informasi ini dari Al Quran
atau Hadist Nabi. Rasanya kita ingin lebih cepat meraih kenikmatan itu. Dan
ujung-ujungnya muncul rasa rindu dan rasa cinta yang sangat mendalam kepada
Baginda Rasulullah. Kemudian keinginan tadi, menanyakan kepada kalbu, Apakah
sudah pantas diriku ini bersanding bersama Rasul ?
Andaikata Rasulullah datang menjenguk kita.
Bayangkan andaikata Rasulullah tiba-tiba muncul mengetuk
pintu rumah kita Apa yang akan kita lakukan?
Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau dan
mempersilahkan beliau masuk ke ruang tamu kita untuk melepaskan rasa rindu yang
sudah lama dipendam. Kemudian kita tentunya akan meminta dengan sangat agar
beliau sudi menginap beberapa hari di rumah kita untuk bercerita dengan
tuturkata yang lembut, mengajarkan kepada kita tentang sopan santun, ilmu dan
hikmah.
Tapi barangkali kita meminta beliau menunggu sebentar di
depan pintu karena kita teringat video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah
dengan beraneka VD yang sebagian besar bergambarkan wanita terbuka setengah
auratnya dan kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke ruang
dalam.
Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah
telanjang yang kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa juga
memindahkannya ke gudang belakang.
Barangkali kita akan segera memindahkan lafal Allah dan
Muhammad yang biasanya berada didekat dapur dalam keadan berdebu dan memindakannya
ke ruang tamu.
Bagaimana bila kemudian beliau sudi menginap di rumah kita,
walaupun hanya satu malam?
Barangkali kita teringat bahwa anak kita lebih hapal
lagu-lagu Spice girls, atau tembangnya Beattle atau Rollingstone dibanding
hapalan Sholawat kepada Rasulullah.
Barangkali kita menjadi malu bahwa anak-anak kita tidak
mengetahui sedikitpun sejarah atau sirah nabi yang menceritakan perjalanan
hidup beliau.
Barangkali kita menjadi malu bahwa anak kita tidak
mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan para sahabat beliau tetapi
hapal di luar kepala mengenai anggota Power Ranger atau Doraemon .
Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar menjadi
ruang musalla, karena beliau sangat menyenangi sholat yang berjam-jam diwaktu
malam.
Barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak
memiliki koleksi pakaian muslimah yang pantas dipakai sewaktu berhadapan dengan
beliau untuk mendengarkan petuah-petuah beliau. Belum lagi koleksi buku-buku
kita dan anak-anak kita. Belum lagi koleksi kaset kita dan anak-anak kita.
Belum lagi koleksi karaoke kita dan anak-anak kita.
Kemana kita harus meyingkirkan semua koleksi tersebut demi
menghormati junjungan kita? Karena gudang-gudang di belakang sudah pada penuh.
Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa
kita jarang ke masjid, mana tau nanti beliau menanyakan siapa nama morbot
mesjid kampung kita, karena beliau sangat perhatian terhadap orang-orang
seperti itu
Barangkali kita menjadi malu karena pada saat maghrib
keluarga kita sibuk di depan TV, karena sinetronnya, sayang untuk diliwatkan.
Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir
seluruh waktu kita untuk mencari kesenangan duniawi.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak
pernah menjalankan sholat sunnah.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat
jarang membaca AlQuran, hingga AlQuran terlihat rapi dan bersih diantara
buku-buku di rak buku kita
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal
tetangga-tetangga kita.
Barangkali kita menjadi malu jika beliau menanyakan kepada
kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita.
Bayangkan andaikata Rasulullah tiba-tiba muncul di depan
pintu rumah kita. Apa yang akan kita lakukan?
Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilakan
beliau masuk dan menginap di rumah kita?
Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau
berkunjung ke rumah karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu.
Marilah kita memohon :
Maafkanlah kami ya Rasulullah .........
Karna kami tahu engkau seorang pemaaf dan murah hati
.........
Kami tahu bahwa cintamu kepada umatmu melebihi cinta kami
terhadap dunia.Hanya Allah yang tahu bahwa kami tetap cinta kepadamu sampai
dengan hembusan nafas kami yang terakhir ya Rasulullah .......... Apakah umatmu
yang rendah ini pantas berada disisimu ya Rasulullah ? Dengan segala kemurahan
hati yang engkau miliki aku hambamu yang rendah ini ingin tetap disisimu ya
Rasulullah .........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar